Semoga Gibran Rakabuming Kalah Dalam Pilkada


Sebelumnya dalam membahas Gibran Rakabuming Raka ane mau menegaskan bahkan ane bukan seorang pakar politik atau apalah, ini hanya sebuah tulisan seorang warga negara yang tentunya bebas berpendapatkan, serta tidak ada muatan berbayar pun dalam tulisan ini, ane hanya merasa gedek aja yang akhirnya menuslis ini. Semua tetap akan selalu relevan.

Bagi ane yang bisa dibilang masih golongan muda juga, seorang pemuda dalam berpolitik itu sah2 saja namun ada banyak proses yang tentunya harus dilalui untuk mencapai kesana. Proses itu bisa dalam bentuk pendidikan politik, hukum atau ilmu2 core yang mendukung sebuah jabatan. Pengalaman dalam berorganisasi, latar belakang merasa pernah bermasalah dengan aturan instansi atau plat merah yang tidak sesuai dengan kaidah sebenarnya dan hal2 lain lah. Yang terpenting bagi ane sebuah log history yang cukup lama didunia tersebut, cukup lama tentu tidak ada rings waktunya tapi ane mungkin menstandarkan sendiri minimal 2-3 tahun apalagi jika memang punya prefiled orang tua atau saudara yang sedang menjabat. standar ane akan lebih lagi. Tanpa terjun ke organisasi atau politik pun mau gak mau mereka akan bersingungan namun jika tidak benar2 meutuskan terjun kesana tentu akan terasa aneh kalau ujuk2 nyalon. Khusus Gibran ini bahkan saat diwawancarai juga Najwa Shihab juga bilang 20 tahun lagi mungkin baru akan tertarik.

Berkaca dari Politikus muda yang menurut ane sangat menarik, muda disini bukan bener2 muda dalam usia namun muda jika dibandingankan dulu2 orang yang politik itu bener2 sudah tua2. Sekarang diusia bapak2 lah bukan diusia simbah2. Seperti Ganjar Pranowo, Thoriqul Haq, Ridwan Kamil,  Emil Dardak, Ahok atau mungkin Mochamad Nur Arifin yang karena termudanya juga sempet ngilang.

Dari Ganjar Pranowo, Thoriqul Haq, Ridwan Kamil,  Emil Dardak dan Ahok bisa dilihat rekam jejak kebelakang dan terjun ke politik. Ganjar Pranowo yang memang besiknya seorang pengacara, Ridwan Kamil dengan besik arsiteknya, Emil Dardak yang juga sepertinya pernah di BUMN, Ahok yang di DPRD atau mungkin Thoriqul Haq yang di organisasi NU. Bahkan Faldo Maldini pun menurut ane lumayan berdarah2 sejak pemilu atau setidaknya dulu di menjadi BEM.

Ane tidak menyudutkan namun kenyataannya memang seperti itu, mungkin yang bisa dipas2in dalam berorganisasi juga ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Boga Indonesia (APJBI) Kota Solo Sejak Desember 2010, itupun kalau kita lihat beritanya tentang hal yang dilakukan setelah pelantikan bahkan tidak ada. Bahkan disitus APJBI sendiri. Itupun lagi hanya ada 1 situs yang mengabarkan secara detail yaitu solopos, Begitupun tentang foto pelantikan dll sepertinya hanya ada 1 itu juga yang terindex digoogle itupun harus bener2 search.

Apalagi kolega satunya juga bakalan nyalon di Medan yang menurut ane juga hampir sama seperti Gibran. Kalau Ibu Mega pernah bilang minimum DPRD I atau DPRD II. Karena posisi itu menjadi mitra kerja pemerintah. Sehingga paling tidak mengerti tata kelola pemerintahan. Ane sih cukup setuju dengan point itu, mengerti tata kelola pemerintahan belajar sambil berjalan dengan belajar saat berjalan itu menurut ane sangat beda. Bahkan belajar karena ada yang masih lerasi yang menjadi patahana tanpa terjun langsung kedunia politik sendiri tentu akan beda beban.

Kenapa dijudul ane bilang semoga kalah, ya biar nantinya yang karena prefilet dan tanpa terjun langsung kesana tidak ada yang menjabat, prefilet pun buat ane sah2 saja namun kalau makbeduduk langsung nyalon menurut ane aneh juga apalagi terjun dilapangan hanya membagikan sembako dll yang sebenarnya kitabisa dan gerakan sosial lainnya pun bisa apalagi nantinya yang digadang2 hanya kata melalui kata klise pariwisata.

Yang ane kurang suka juga tentang isu radikalisme dll yang diangkat jika memang dia tidak setuju dengan pencalonan beberapa bulan kebelakang. Padahal banyak faktor lain selain itu. Apa iya gak suka dengan pencalolan orang semua karena dia radikalis.

Faktor lain tapi mungkin bisa dipaksakan dirubah kalau nantinya jadi adalah meme able, muka gibran yang keliatan pagob itu sangat memeable dan memeable itu perpotensi untuk dijadikan bahan orang debat tanpa ujung.

Kalau kita bandingkan dengan AHY mau gak mau memang berbeda konteks, prefilet nya masih sebatas mantan anak presiden dan itupun buat ane masih mendingnya adalah tentara yang langsung juga disana ada aspek ilmu kenegaraan pastinya.

Ane cuma malesnya itu aji mumpung ketika masih ada kolega yang menjabat dan belum beres2 banget juga ngurusin negara malah nambah beban koleganya tersebut yang sebenernya bisa lebih fokus ngurusin negara. Toh levelnya sudah paling tinggi harusnya lebih ada power untuk ngurusin daerah tersebut. Jika semua memiliki angan2 klise yang tidak semua bisa mengimplementasinya seperti kalau sudah jadi pejabat mungkin lebih punya power buat membantu orang dari pada hanya csr mungkin hanya model2 kayak Ahok yang bisa

Tapi sekali lagi mau nyalon mau gak nyalon itu bebas, tulisan ini hanya pandangan ane pribadi. Anda dukung Gibran itu juga hak anda bahkan berlaku sebaliknya. Terlalu klise mungkin jika seperti netizen indonesia dengan kata, prestasi kamu apa. Tapi untuk sebuah jabatan tinggi menurut ane itu sangat relefan bahkan tidak hanya sebuah prestasi, sebuah ide program tatakelola yang akan dia lakukan saja menurut ane sudah hal yang luar biasa jika berani diutarakan diawal, tidak hanya sebuah kata melalui pariwisata atau aksi baksos yang mungkin Baim Wong juga bisa apalagi hanya prestasi yang dicari2 untuk ditambahkan di wikipeda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s