Tentang Selera, FILM Laku FILM Bagus


Kali ini ane akan membahas tentang SELERA, FILM Laku dan FILM Bagus dari dua sudut pandang yaitu dari segi penonton dan segi creator. yang sebanrnya akan mendapatkan sudut pandang dan pola pikir berbeda dalam mengartikannya.

SELERA

Selera tentu hal ini adalah milik pasar, milik penonton. Membahas kearah yang lebih atas lagi mungkin selera sutradara dalam membuat FILM namun dalam industri yang melibatkan uang dan hasil akhirnya adalah konversi dan uang tentu pemilik dana yang memikirkan keuntungan seyogyanya pasti akan memiliki selera yang paling banyak orang suka, selera yang sedang trends dll dll. Maka tak heran jika ketika trends film hantu esek esek boming semua orang membuat FILM dengan genre yang sama. Dan selera itu bisa ciptakan dimasa sekarang ini. nanti akan ane jelaskan diakhir.

FILM Bagus

FILM bagus adalah film yang menurut kita bagus, Film bagus bisa juga adalah film yang disugestikan bagus. Dan Film bagus sama halnya dengan kata bagus yang ada di setelah FILM maka dia akan muncul setelah orang melihat filmya, lebih jelasnya setelah dia MEMBELI TIKET dan MENONTON.

FILM Laku

FILM laku adalah FILM yang BANYAK Di TONTON, Menonton FILM tentu setelah MEMBELI TIKET. Jika membahas lebih jauh lagi ada faktor PROMOSI dari yang punya FILM juga mungkin sugesti untuk orang menonton.

JADI ?

Dalam penjelasan ane diatas kurang lebih kalau di simpulkan gini FILM laku dan FILM Bagus itu sudah beda, Laku belum tentu bagus, Bagus belum tentu laku. Tapi laku pasti profit, bagus belum tentu profit dan profit itu adalah yang laku

Diera sekarang ini bahkan selera sangat bisa dibuat, dengan adanya marketing yang benar benar tertaget. sangat mudah membuat trailer yang yang ditujukan untuk orang yang memiliki selera A dan trailer atau iklan yang ditukan ke orang yang memiliki selera B padahal kemungkinan peminat Film kita adalah orang yang memiliki selera C. Apalagi kalau dihubungkan dengan konteks promosi via Online bahkan yang offline sekalipun setelah kita punya data tentang reting usia penonton suatu TV. Masak iya pake browsur tentu sudah gak jaman. Mntok offline di TV.

Membuat traiker potongan tentang adegan cinta dan romansanya habibi untuk netTV dan iklan ketika  Ganteng-Ganteng Srigala tentu akan lebih menarik perhatian dari pada pasang iklan di TVRI atau ketika Uttarran. Membuat trailer tentang kepahlawanan dan perjuangan Habibi tentu akan lebih menarik orang yang dari segi usia yang nonton uttarran. Data itu sudah dapat didapat.

Apalagi jika targetnya online, di Facebook, Twitter, Youtube. Data itu sudah seperti melihat orang telanjang untuk beriklan. Dari usia, hobi, lokasi dan puluhan variabel lain yang lebih tertarget. Sampai orang yang punya duit dan kuat untuk beli tiket pun bisa kita pikirkan menggunakan variabel apa.

Genre itu sudah jelas dan Genre itu bukan selera. selera itu aftrak seperti pikiran setiap orang. Namun pembuat FILM tentu akan menyasar semua selera walau sudah ke filter Genre.

Sekarang dari sudut pandang penonton, ane memposisikan diri sebagai penonton. Ane akan tertarik nonton itu ketika sesuai selera ane, sesuai genre yang ane suka mungkin, sesuai artis , sutradara dl yang ane suka. namun ane juga ada kemungkinan nonton ketika banyak orang membicarakan. Dan Clickbait yang sukses adalah ketika trailernya keren. Masih ingat dengan tulisan ane tentang FILM DEADPOOL FULL Marketing ? Banyak situs yang expret tentang film hampir bersuara sama film ini biasa saja, namun orang yang memiliki selera itu ya pasti suka. Namun faktanya FILM itu tetap meraih keuntungan fantastis. Kok bisa ? ya akhirnya karena FILM ini LAKU. banyak yang nonton. Itu faktanya. Namun kok bisa banyak yang nonton? Ya itu sudah bisa terlihat karena marketing yang luar biasa 1 tahun sebelum film ini keluar bahkan sangat intensif menjelang beberapa bulan FILM ini keluar.

Ane penyuka FILM Hero pada dasarnya selera saya disana, namun ane tidak selera dengan Genre yang sebenarnya ane suka itu karena menurut ane FILM itu tidak begitu bagus. Tapi ini selera saya, orang lain tentu beda. namun masalah marketing dll yang membuat suskses itu adalah data bukan karena film itu bukan selera ane.

Menyasar semua selera orang orang untuk membeli tiket itu untuk saat ini adalah yang utama dab itu adalah hal yang mudah ketika sudah benar2 terkonsep. Masalah nanti setelah nonton dia bilang gimana itu masalah nanti yang penting dia sudah lead dengan membeli tiket. Berbeda dengan lagu. Jika memutuskan beli album atau tidak itu murni selera yang menentukan karena kita sudah mendengarkan didepan dan single itu bukan triler.

Jadi kurang lebih seperti itu Laku itu ada didalam selera namun bagus dan jelek itu irisan selera. Selera itu sangat bisa disugestikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s