Se Religius – Religius mu, Tetaplah REALISTIS


Unsur Realistis sebenarnya masuk dalam unsur religius, tapi kadang manusia itu tidak sadar. Bahkan Kereligiusannya pun bahkan tidak menggapkan unsur realistis yang jelas-jelas ada didalamnya.

Di agama ane sendiri, bahkan sebagian masih kurang realistis dalam menyikapi hal yang itu adalah FAKTA. Sang pembawa pesan terakhir pun padahal cukup realistis, bahwa yang menjamin dia masuk surga adalah sang Pencipta. Hak prerogatif sang pencipta akan apapun termasuk memasukkannya ke Surga. Bahkan beliau cukup sedih ketika beliau tidak bisa menjamin semua umat setelahnya bisa masuk surga.

Yang lain adalah tentang keadaan kita mati. Di agama ane menjamin semua yang menganut agama ane kalau mati kelak akan masuk surga, surga di akhir setelah mereka juga tetap harus menebus apa yang telah mereka lakukan di dunia ini.

Sebagian fokus ke PASTI MASUK SURGA, tapi kurang realistis bahkan ketika kelak kita mati, yang menentukan kita dianggap golongan sang pembahawa pesan terakhir itu sang Pencipta. Bukan hanya variabel simbol2 dan aktifitas kita didunia saja.

Jika diibaratkan yang bisa dibayangkan. Kita sekolah bener selalu rengking dll itu tidak menjamin kita sukses ke goal hidup kita juga. Na balik lagi nasib yang akan menentukan. Tapi ya bukan berarti terus kita ak perlu sekolah dll. Pikiran kita harus lebih luas lagi. Aku sekolah ini harus lebih semangat lebih giat, harus cari temen banyak karena sainganku sukses itu gak hanya yang sekolah. Nek orang realistis harusnya berfikiran seperti itu.

Jangan langsung menganggap orang yang berfikiran seperti itu salah. Jika kita cukup cerdas ketika kita paham akan realistis kita akan bersikap lebih semangat lebih menerima dan lebih rendah hati.

Ooo .. jadi seberibadahnya sereligiusnya aku itu belum jaminan ya nanti aku dianggap segolongan sama sang pencipta, jadi ane harus lebih sabar lagi, leih rendah hati lagi dan terus menjalankan ibadah dan religius ini  semoga besok ketika mati dianggap segolongan dengan beliau.

Ketika kamu sadar ke realistisan dengan Tuhan, simbol2 dan amalan2 itu hanya faktor pendukung. ya realistis aja terserah Tuhan juga mau apa. Ketika kerealistisan akan hal itu kita tidak pupuk dalam diri. Kelak kita akan selalu merasa benar dihadapannya, merasa menadapat jaminan oleh Tuhan dll. Lah kita ini belum ketemu Dia, jadi jangan merasa mendapat jaminan.

Kita ini hanya selalu berharap dengan Tuhan, atas apa yang telah kita lakukan itu mendapatkan penilaian, balasan atau apalah. itu terserah Tuhan nanti ke kitanya. Dia itu gak butuh kita, Dia tidak akan berkurang sedikitpun tanpa kita berbuat atau tidak berbuat. Itu logis dan hal realistis yang harus kita sadari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s