Belajar dari Kasus Cak Budi dan First Travel Tentang Hasrat Umuk di IG dan Media Sosial Lain.


Kasus First Travel yang lagi viral ini ane malah lebih menanggapi dari sisilain. Dari hal sosial media yang memang dua ane sehari.  Begitupun dengan kasus Cak Budi beberapa bulan lalu. Ini yang sering dilakukan oleh pemegang tanggung jawab atau bisnis yang memang behubungan dengan orang banyak sebagai sumber pendapatan / tujuan kita.

Gaya hidup pemilik First Travel ini memang tergolong wah dengan foto liburannya. Padahal jika diisi dengan foto2 usaha lainnya misal kalau dia disainer ya tentang hasil desain yang dipakai model2 nya tentu akan lebih positif. Apalagi jika kita memiliki usaha yang berhubungan dengan tanggung jawab orang banyak. Pikiran negatif orang tentang apa yang kita perlihatkan atau mungkin kita pamerkan dianggap memang dari uang mereka yang berhubungan dengan bisnis kita.

Yang lain adalah kasus Cak Budi yang menjadi heboh karena banyak yang berprasangka tentang Mobil dan Iphone yang dia post di Instagram. Tidak ada yang salah menurut ane. Tapi yang bener belum tentu pener. mengelola uang sebegitu banyak memang tentu butuh tanggung jawab dan tenaga lebih. Sudah dijelaskan tentang guna pembeliannya pun prasangka itu pasti akan tetap ada kalau kita berhubungan dengan manusia indonesia. Jadi memang kalau mau main aman tanggung jawab2 hal2 yang hubungannya dengan uang orang banyak diserahkan kepada yang lebih memiliki kapasitas besar dalam bertanggung jawab. langkah diserahkan ke ACT atau badan amil lain ane kira sudah pas. Karena orang memang taunya dan tidak mau sedikitpun merasa uang yang diaberikan untuk berdonasi digunakan yang dalam prasangka mereka untuk pribadi penyalur. Tapi memang seperti itu adanya seharunya. Menjadi relawan yang meyalurkan dana sedang ditngah jalan tidak memiliki pulsa dan menggunakan uang itu untuk membeli pulsa yang tujuannya juga untuk berkomunikasi dengan relawan lain pun akan mejadi masalah dinegeri ini. Walau memang secara tanggung jawab kepada Tuhan, memang sangat berat karena memang kita memegang amanat orang yang sejatinya memang disampaikan seperti dengan apa yang sudah dititipkan. Maka dari itu malah akan menjadi ribet sendiri hal2 seperti ini.

Menahan untuk showoff ketika memegang tanggung jawab kepada banyak orang itu memang berat. Sebenarnya sangat salut dengan orang2 luar yang masih bisa ngempet atau menahan untuk showoff. Tentu yang bisa dilihat secara kasat mata adalah mark zuckerberg dan mungkin beberapa orang terkaya didunia tech lainnya. Bagaimana tetap terlihat sederhana dengan uang mereka yang mungkin tidak ada serinya.

Karena kadang kita lupa pada benang merah, bahwa yang patut kita angkat itu mereka yang berhubungan dengan kita. Kesuksesan mereka jika kita sebuah network, kepuasaan mereka kita menjual jasa dan masih hal lainnya yang intinya adalah menonjolkan mereka. Bukan kitanya.

Karena jika kitanya tentu apapun itu akan berbalut dengan bungusan prasangka oleh mereka – mereka, Ratusan bahkan ribuan orang yang berhubungan dengan kita.

  • “Ya jelaslah kaya, bagian dia di network kan banyak. Dia founder nya jelas kaya.”
  • “Dia jalan2 terus, jangan2 pake uang kami ya.”
  • “Jangan-jangan niatnya beli itu untuk pribadi bukan untuk menyalurkan.”

Dan masih banyak lagi “jangan-jangan” dan “ya jelaslah” lainnya yang membuat orang menjadi mikir untuk mengikuti jaringan kita. Ini menjadi lain kasus jika yang kita pertonton kita dapat bukan dari hasil yang berhubungan banyak orang. Kita upload beli mobil karena usaha kita bisa punya banyak warung burjo, jualan barang dll. Itupun kadang juga akan menimbulkan persepsi negatif lagi jika semua itu atau jika kita memiliki banyak karyawan.

Memang susah memang, ya karena itu kalau didalam agama ane memang perjuangan paling berat memang menahan hawa napsu. Dan napsu sendiri cakupannya akan sangat luat, tidak melulu akan berkonteks pada sex atau birahi.

Paling enak memang terlihat biasa, khususnya di era milenial sosial media. Kesederhaan itu tidak menggurangi apapun pada diri kita.

Ane selalu ingat kata2 ini :

“Tahu, mengapa kita tak boleh terlalu senang berlebihan saat dikaruniai kenikmatan?
Agar kita menjaga yang lain untuk tetap bersyukur.
Karena, tak semestinya kita menjadi perantara orang untuk kufur nikmat.

Yang hamil, menjaga perasaan orang yang belum hamil.
Yang sudah menikah, menjaga perasaan orang yang belum menikah.
Yang kaya, menjaga perasaan orang yang miskin.
Yang sempurna fisiknya, menjaga perasaan orang yang memiliki kekurangan fisik.

Indah.

Kita menjaga diri bukan lantaran orang-orang di sekitar kita iri.
Kita menjaga diri bukan berarti kita tidak berhak mengekspresikan rasa senang dan syukur kita.
Kita menjaga diri karena kita ingin sama-sama bersyukur dengan mereka yang belum mendapati nikmat yang sudah kita dapati.

Karena menjadi perantara syukur bagi orang lain adalah kenikmatan dan kebahagiaan yang sesungguhnya.”

Don’t show off and then blame the evil eye. You show off everything you own, then cry about evil eye. Nobody is saying don’t own nice things, but why rub it in people’s faces? We should be considerate of others. Don’t talk about your wealth next to the poor. Don’t talk about children next to those who can’t have kids, etc.

Advertisements

Published by:

rasarab

Iqbal Khan urban cyclists. Social Media Specialist, Full time Blogger, SEO Specialist, Web Developer. Founder http://goowes.co & Co Founder http://ngonoo.com EMAIL : ras.arab@gmail.com

Categories Tulisan Rasarab1 Comment

One thought on “Belajar dari Kasus Cak Budi dan First Travel Tentang Hasrat Umuk di IG dan Media Sosial Lain.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s