Tentang Takbiran Keliling dan Jika Tahu Agama


Ane bukan orang yang pintar agama, namun paling tidak ane sedikit paham. Tentang takbiran yang keliling yang dilarang dibeberapa kota ini pendapat ane tentu beda dengan Uni Fahira Idris, Jonru, FPI dan para anti Ahok.

Di Indonesia yang beragam ini, Kita tahu bahwa masyarakat Islam pada malam Idul Fitri dan Idul Adha selalu menyambutnya dengan melakukan takbir, takbir keliling (takbiran). Bagaimana pelaksanaan takbiran di masa Rasulullah?

[1] Dalil
Disyariatkan untuk bertakbir sebagaimana Allah berfirman :
Artinya : “..dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan…” [Qs. Al-Hajj : 28]
Artinya : “.. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu,..” [Qs. Al-Baqarah :185]
Dan juga yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam yang diriwayatkkan melalui hadits berikut :
Artinya : Beliau keluar pada hari Idul fitri, maka beliau bertakbir hingga tiba di mushalla (tanah lapang), dan hingga ditunaikannya shalat. Apabila beliau telah menunaikan shalat, beliau menghentikan takbir”.[HR. Ibnu Abi Syaibah dengan sanad Shahih]
Juga diriwayatkan oleh para sahabat, seperti :
Pada pagi hari Idul Fitri dan Idul Adha, Ibnu Umar mengeraskan takbir hingga ia tiba di mushalla, kemudian ia tetap bertakbir hingga datang imam. [Diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni, Ibnu Abi Syaibah dan selainnya dengan isnad yang shahih. Lihat “Irwaul Ghalil’ 650]
“Ibnu Umar pernah bertakbir di Mina pada hari-hari itu dan setelah shalat (lima waktu), di tempat tidurnya, di kemah, di majlis dan di tempat berjalannya pada hari-hari itu seluruhnya.” [HR. Bukhari]
[2] Waktu Takbir
Takbir di malam hari raya dimulai sejak kita telah melihat hilal bulan syawwal –jika memungkinkan—dan jika tidak maka dimulai sejak sampainya berita Id melaui cara yang benar atau dengan terbenamnya matahari pada hari ke 30 bulan Ramadhan. Sedangkan pada malam Idul Adha dimulai sejak terbenamnya matahai pada tanggal 9 Dzulhijjah.
Takbir ini ditekankan untuk dikumandangkan ketika berangkat ke tanah lapang tempat sholat Id dan saat menunggu Sholat sebagai mana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah diatas. Berkata Al-Muhaddits Syaikh Al Albani :
Dalam hadits ini ada dalil disyari’atkannya melakukan takbir secara jahr (keras/bersuara) di jalanan menuju mushalla sebagaimana yang biasa dilakukan kaum muslimin.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang waktu takbir pada dua hari raya, maka beliau rahimahullah menjawab :
Segala puji bagi Allah, pendapat yang paling benar tentang takbir ini yang jumhur salaf dan para ahli fiqih dari kalangan sahabat serta imam berpegang dengannya adalah : Hendaklah takbir dilakukan mulai dari waktu fajar hari Arafah sampai akhir hari Tasyriq ( tanggal 11,12,13 Dzulhijjah), dilakukan setiap selesai mengerjakan shalat, dan disyariatkan bagi setiap orang untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika keluar untuk shalat Id. Ini merupakan kesepakatan para imam yang empat”. [Majmu Al -Fatawa 24/220 dan lihat ‘Subulus Salam’ 2/71-72
[3] Bacaan Takbir
Tidak terdapat riwayat lafadz takbir tertentu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya saja ada beberapa riwayat dari beberapa sahabat yang mencontohkan lafadz takbir. Diantara riwayat tersebut adalah:
…Pertama, Takbir Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Riwayat dari beliau ada 2 lafadz takbir:
أ‌- اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُب‌- اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ
Keterangan:Lafadz: “Allahu Akbar” pada takbir Ibn Mas’ud boleh dibaca dua kali atau tiga kali. Semuanya diriwayatkan Ibn Abi Syaibah dalam Al Mushannaf.
Kedua, Takbir Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma:
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَأَجَلُّاللَّهُ أَكْبَرُ، عَلَى مَا هَدَانَا
Keterangan:Takbir Ibn Abbas diriwayatkan oleh Al Baihaqi dan sanadnya dishahihkan Syaikh Al Albani.
Ketiga, Takbir Salman Al Farisi radhiyallahu ‘anhu:
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا
Keterangan: Ibn Hajar mengatakan: Takbir Salman Al Farisi radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan oleh Abdur Razaq dalam Al Mushanaf dengan sanad shahih dari Salman.
Catatan Penting
As Shan’ani mengatakan: “Penjelasan tentang lafadz takbir sangat banyak dari berberapa ulama. Ini menunjukkan bahwa perintah bentuk takbir cukup longgar. Disamping ayat yang memerintahkan takbir juga menuntut demikian.”
Maksud perkataan As Shan’ani adalah bahwa lafadz takbir itu longgar, tidak hanya satu atau dua lafadz. Orang boleh milih mana saja yang dia suka. Bahkan sebagian ulama mengucapkan lafadz takbir yang tidak ada keterangan dalam riwayat hadis.
[4] Tempat Bertakbir
Dari beberapa riwayat diatas maka disunnahkan mengeraskan suara takbir di pasar-pasar, rumah-rumah, jalanan, masjid-masjid dan tempat berkumpulnyaorang-orang untuk menampakkan syiar.
[5] Hal-hal yang terlarang dalam bertakbir
Dilarang bertakbir dengan berjamaah, yaitu sejumlah orang berkumpul dengan sengaja untuk bertakbir dengan satu suara seperti paduan suara, atau seseorang bertakbir kemudian sejumlah orang dibelakangnya mengikuti dan mengulanginya. Tidak ada dasar yang mendasari bertakbir secara berjamaah dengan satu suara atau dengan dipimpin oleh satu orang. Yang sesuai dengan sunnah adalah setiap orang bertakbir sendiri-sendiri.
Pada jaman kita sekarang juga terdapat bacaan-bacaan takbir yang ditambah-tambah dengan yang baru tanpa adanya dasar sehingga menyelisihi apa yang pernah dilakukan oleh para sahabat.
Ada beberapa kebiasaan yang salah ketika melakukan takbiran di hari raya, diantaranya:
a. Takbir berjamaah di masjid atau di lapangan
Karena takbir yang sunnah itu dilakukan sendiri-sendiri dan tidak dikomando. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat Anas bin Malik bahwa para sahabat ketika bersama nabi pada saat bertakbir, ada yang sedang membaca Allahu akbar, ada yang sedang membaca laa ilaaha illa Allah, dan satu sama lain tidak saling menyalahkan… (Musnad Imam Syafi’i 909)
Riwayat ini menunjukkan bahwa takbirnya para sahabat tidak seragam. Karena mereka bertakbir sendiri-sendiri dan tidak berjamaah.
b. Takbir dengan menggunakan pengeras suara
Perlu dipahami bahwa cara melakukan takbir hari raya tidak sama dengan cara melaksanakan adzan. Dalam syariat adzan, seseorang dianjurkan untuk melantangkan suaranya sekeras mungkin. Oleh karena itu, para juru adzan di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti Bilal, dan Abdullah bin Umi Maktum ketika hendak adzan mereka naik, mencari tempat yang tinggi. Tujuannya adalah agar adzan didengar oleh banyak orang. Namun ketika melakukan takbir hari raya, tidak terdapat satupun riwayat bahwa Bilal naik mencari tempat yang tinggi dalam rangka melakukan takbiran. Akan tetapi, beliau melakukan takbiran di bawah dengan suara keras yang hanya disengar oleh beberapa orang di sekelilingnya saja.
Oleh karena itu, sebaiknya melakukan takbir hari raya tidak sebagaimana adzan. Karena dua syariat ini adalah syariat yang berbeda.
c. Hanya bertakbir setiap selesai shalat berjamaah
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa takbiran itu ada dua. Ada yang terikat waktu dan ada yang sifatnya mutlak (tidak terikat waktu). Untuk takbiran yang mutlak sebaiknya tidak dilaksanakan setiap selesai shalat fardlu saja. Tetapi yang sunnah dilakukan setiap saat, kapan saja dan di mana saja.
Ibnul Mulaqin mengatakan: “Takbiran setelah shalat wajib dan yang lainnya, untuk takbiran Idul Fitri maka tidak dianjurkan untuk dilakukan setelah shalat, menurut pendapat yang lebih kuat.” (Al I’lam bi Fawaid Umadatil Ahkam: 4/259)
Amal yang disyariatkan ketika selesai shalat jamaah adalah berdzikir sebagaimana dzikir setelah shalat. Bukan melantunkan takbir. Waktu melantunkan takbir cukup longgar, bisa dilakukan kapanpun selama hari raya. Oleh karena itu, tidak selayaknya menyita waktu yang digunakan untuk berdzikir setelah shalat.
d. Tidak bertakbir ketika di tengah perjalanan menuju lapangan
Sebagaimana riwayat yang telah disebutkan di atas, bahwa takbir yang sunnah itu dilakukan ketika di perjalanan menuju tempat shalat hari raya. Namun sayang sunnah ini hampir hilang, mengingat banyaknya orang yang meninggalkannya.
e. Bertakbir dengan lafadz yang terlalu panjang
Sebagian pemimpin takbir sesekali melantunkan takbir dengan bacaan yang sangat panjang. Berikut lafadznya:
الله أكبر كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ…

Dasar pensyari’atan takbiir ‘iidul fithri

Allah berfirman di akhir ayat puasa di surat al Baqarah:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

yang artinya, “Dan hendaknya kalian sempurnakan bilangan Ramadhan dan hendaknya kalian bertakbir memahabesarkan Allah karena hidayah yang Allah anugrahkan kepada kalian dan supaya kalian bersyukur”.

(al Baqarah: 185)

Tentang ayat ini Ibnu Katsir mengatakan,

“Banyak ulama berdalil mengenai disyariatkannya takbir saat iedul fitri dengan menggunakan ayat ini”

(Lihat dalam tafsirnya 1/307)

Dasar pensyari’atan takbiir ‘iidul adh-ha

Berdasarkan firman Allah:

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ

yang artinya: “…supaya mereka berdzikir (menyebut) nama Allah pada hari yang telah ditentukan…” (Qs. Al Hajj: 28)

Dan juga firmanNya:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ

yang artinya: “….Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang…” (Qs. Al Baqarah: 203)

Beberapa para shahabat Rasuulullaah menafsirkan ayat diatas:

“Yang dimaksud ‘hari yang telah ditentukan’ adalah tanggal 1 – 10 Dzulhijjah, sedangkan maksud ‘beberapa hari yang berbilang’ adalah hari tasyriq, tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.”

Kapan dimulainya dan berakhirnya takbir?

Takbir ‘iidul fithri

Maka ada dua pendapat ulamaa’:

– Pendapat pertama, mengatakan bahwa takbir dimulai ketika matahari terbenam diakhir bulan ramadhan (pertanda masuknya 1 syawal) dan berakhir ketika imam datang

Mereka berdalil dengan keumuman ayat diatas:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

yang artinya, “Dan hendaknya kalian sempurnakan bilangan Ramadhan dan hendaknya kalian bertakbir memahabesarkan Allah karena hidayah yang Allah anugrahkan kepada kalian dan supaya kalian bersyukur”.

(al Baqarah: 185)

Ayat diatas memerintahkan kita untuk bertakbir kepada Allah, setelah kita menyempurnakan bilangan ramadhan. Maka ketika kita telah menyempurnakannya, dan telah masuk syawal, maka kita mulai bertakbir.

Kemudian diriwayatkan dari Said bin Musayyab, Urwah bin Zubair, Abu Salamah, Abu Bakar bin Abdurrahman radhiallahu’anhum biasanya mereka bertakbir pada malam Iidul Fitri di Masjid dengan mengeraskan suara takbir.

Hal ini yang dirajihkan Syaikh ibnul ‘Utsaimiin rahimahullaah, sebagaimana perkataan beliau:

“Takbir dimulai sejak matahari terbenam pada malam Id, apabila bulan (Syawal) sudah diketahui sebelum magrib, misalnya ketika Ramadan sempurnakan tiga puluh hari, atau telah ditetapkan rukyah hilal syawal. Takbir diakhiri dengan pelaksanaan shalat id. Yakni ketika orang-orang mulai shalat Id, maka selesailah waktu takbir.”

(Majmu Fatawa Ibnu Utsaimin, 16/269-272)

– Adapun pendapat kedua, mengatakan bahwa takbir dimulai ketika kita keluar dari rumah menuju lapangan, dan berakhir hingga selesainya shalat ‘iid

Hal ini berdasarkan perbuatan nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam, sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah, yang menerangkan:

“…bahwa beliau -shallallaahu ‘alayhi wa sallam- keluar pada hari Idul fitri, maka beliau bertakbir hingga tiba di mushalla (tanah lapang), dan hingga ditunaikannya shalat. Apabila beliau telah menunaikan shalat, beliau menghentikan takbir”

[Hadits shahiih, Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam “Al-Mushannaf” dan Al-Muhamili dalam “Kitab Shalatul ‘Iedain” dengan isnad yang shahih akan tetapi hadits ini mursal. Namun memiliki pendukung yang menguatkannya. Lihat Kitab “Silsilah Al Hadits As-Shahihah” (170)]

Dan inipula yang diamalkan Ibn ‘Umar -yang kita ketahui adalah orang yang paling semangat mengamalkan sunnah-sunnah nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam- [Diriwayatkan Faryabi 43-46].

Ibnu Rajab dalam Fathul Bari 6/133 mengatakan “Oleh karena itu dituntunkan oleh mengeraskan takbir ketika berangkat menuju tempat shalat Ied. Hal ini diriwayatkan dari Umar, Ali, Ibnu Umar dan Abu Qatadah dan sejumlah ulama tabiin dan para ulama setelahnya”.

Dan inilah yang dirajihkan Syaikh al Albaaniy rahimahullaah. Dan inilah yang pendapat yang lebih mendekati kepada kebenaran.

Adapun untuk jawaban pendapat pertama, maka kita katakan: “Sesungguhnya kita pun mengikuti ayat diatas, dengan cara pengamalannya yang mengikuti pengamalan nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Karena telah ada riwayat bahwa nabi memulai takbirnya ketika beliau keluar menuju tempat shalat ‘iid, maka kita pun memulainya sebagaimana beliau memulainya. Wallaahu a’lam bish shawwaab”

Takbir ‘iidul adh-ha

Maka ini ada dua jenis:

1) Takbiran yang tidak terikat waktu (Takbiran Mutlak)

Takbiran hari raya yang tidak terikat waktu adalah takbiran yang dilakukan kapan saja, dimana saja, selama masih dalam rentang waktu yang dibolehkan.

Takbir mutlak menjelang idul Adha dimulai sejak tanggal 1 Dzulhijjah sampai waktu asar pada tanggal 13 Dzulhijjah. Selama tanggal 1 – 13 Dzulhijjah, kaum muslimin disyariatkan memperbanyak ucapan takbir di mana saja, kapan saja dan dalam kondisi apa saja.

Boleh sambil berjalan, di kendaraan, bekerja, berdiri, duduk, ataupun berbaring. demikian pula, takbiran ini bisa dilakukan di rumah, jalan, kantor, sawah, pasar, lapangan, masjid, dst. (kutip dari muslim.or.id)

Berdasarkan firman Allah:

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ

yang artinya: “…supaya mereka berdzikir (menyebut) nama Allah pada hari yang telah ditentukan…” (Qs. Al Hajj: 28)

Dan juga firmanNya:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ

yang artinya: “….Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang…” (Qs. Al Baqarah: 203)

Yang dimaksud berdzikir pada dua ayat di atas adalah melakukan takbiran.

Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: “Yang dimaksud ‘hari yang telah ditentukan’ adalah tanggal 1 – 10 Dzulhijjah, sedangkan maksud ‘beberapa hari yang berbilang’ adalah hari tasyriq, tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.” (Al Bukhari secara Mua’alaq, sebelum hadis no.969; kutip dari muslim.or.id)

Dari Sa’id bin Jubair dari Ibn Abbas, bahwa maksud “hari yang telah ditentukan” adalah tanggal 1 – 9 Dzulhijjah, sedangkan makna “beberapa hari yang berbilang” adalah hari tasyriq, tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. (Disebutkan oleh Ibn Hajar dalam Fathul Bari 2/458, kata Ibn Mardawaih: Sanadnya shahih; kutip dari muslim.or.id)

dari Abdullah bin Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak ada amal yang dilakukan di hari yang lebih agung dan lebih dicintai Allah melebihi amal yang dilakukan di tanggal 1 – 10 Dzulhijjah. Oleh karena itu, perbanyaklah membaca tahlil, takbir, dan tahmid pada hari itu.”

(HR. Ahmad & Sanadnya dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir; kutip dari muslim.or.id)

Imam Al Bukhari mengatakan:

“Dulu Ibn Umar dan Abu Hurairah pergi ke pasar pada tanggal 1 – 10 Dzulhijjah. Mereka berdua mengucapkan takbiran kemudian masyarakat bertakbir disebabkan mendengar takbir mereka berdua.”

(HR. Al Bukhari sebelum hadis no.969; kutip dari muslim.or.id)

Disebutkan Imam Bukhari:

“Umar bin Khatab pernah bertakbir di kemahnya ketika di Mina dan didengar oleh orang yang berada di masjid. Akhirnya mereka semua bertakbir dan masyarakat yang di pasar-pun ikut bertakbir. Sehingga Mina guncang dengan takbiran.”

(HR. Al Bukhari sebelum hadis no.970; kutip dari muslim.or.id)

2) Takbiran yang terikat waktu

Takbiran yang terikat waktu adalah takbiran yang dilaksanakan setiap selesai melaksanakan shalat wajib. Takbiran ini dimulai sejak setelah shalat subuh tanggal 9 Dzulhijjah sampai setelah shalat Asar tanggal 13 Dzulhijjah. (kutip dari muslim.or.id)

Berikut dalil-dalilnya (kutip dari muslim.or.id):

a. Dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau dulu bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai setelah dluhur pada tanggal 13 Dzulhijjah. (Ibn Abi Syaibah & Al Baihaqi dan sanadnya dishahihkan Al Albani)

b. Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai ashar tanggal 13 Dzulhijjah. Beliau juga bertakbir setelah ashar. (HR Ibn Abi Syaibah & Al Baihaqi. Al Albani mengatakan: “Shahih dari Ali radhiyallahu ‘anhu“)

c. Dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai tanggal 13 Dzulhijjah. Beliau tidak bertakbir setelah maghrib (malam tanggal 14 Dzluhijjah). (HR Ibn Abi Syaibah & Al Baihaqi. Al Albani mengatakan: Sanadnya shahih)

d. Dari Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai ashar tanggal 13 Dzulhijjah. (HR. Al Hakim dan dishahihkan An Nawawi dalam Al Majmu’)

Lafazh takbir

Berkata Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabiy:

“Sepanjang yang aku ketahui, tidak ada hadits nabawi yang shahih tentang tata cara (yaitu berkaitan dengan lafazh) takbir. Yang ada hanyalah tata cara takbir yang di riwayatkan dari sebagian sahabat, semoga Allah meridlai mereka semuanya.” (dikutip dari almanhaj)

Pertama, Takbir Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

Riwayat dari beliau ada 2 lafadz takbir:

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ

Keterangan: Lafadz: “Allahu Akbar” pada takbir Ibn Mas’ud boleh dibaca dua kali atau tiga kali. Semuanya diriwayatkan Ibn Abi Syaibah dalam Al Mushannaf. (kutip dari muslim.or.id)

Kedua, Takbir Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اللَّهُ أَكْبَرُ وَأَجَلُّ اللَّهُ أَكْبَرُ، عَلَى مَا هَدَانَا

Keterangan:Takbir Ibn Abbas diriwayatkan oleh Al Baihaqi dan sanadnya dishahihkan Syaikh Al Albani. (kutip dari muslim.or.id)

Ketiga, Takbir Salman Al Farisi radhiyallahu ‘anhu

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا

Keterangan: Ibn Hajar mengatakan: Takbir Salman Al Farisi radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan oleh Abdur Razaq dalam Al Mushanaf dengan sanad shahih dari Salman. (kutip dari muslim.or.id)

Berkata Imam Ash Shan’ani mengatakan: “Penjelasan tentang lafadz takbir sangat banyak dari berberapa ulama. Ini menunjukkan bahwa perintah bentuk takbir cukup longgar. Disamping ayat yang memerintahkan takbir juga menuntut demikian.”

Maksud perkataan As Shan’ani adalah bahwa lafadz takbir itu longgar, tidak hanya satu atau dua lafadz. Orang boleh milih mana saja yang dia suka. Bahkan ada sebagian ulama mengucapkan lafadz takbir yang tidak ada keterangan dalam riwayat hadist.

Tata cara takbiran yang benar

1. Takbir dilakukan DENGAN SUARA KERAS

Berkata Naafi’ rahimahullaah:

كَانَ ابْنُ عُمَرَ يُكَبِّرُ يَوْمَ اْلعِيْدِ فِى اْلأَضْحَى وَالْفِطْرِ وَيُكَبِّرُ وَيَرْفَعُ صَوْتَهُ

“Ibnu Umar bertakbir pada hari ‘idul fitri dan adha beliau bertakbir dan mengeraskan suaranya.“

(Diriwayatkan oleh ad-Daaruqutni 2 / 45, Baihaqi 3/ 279, dan selainnya)

Berkata Abu Jamilah Masyaawah bin Ya’kub:

رأيت عليا , رضي الله عنه خرج يوم العيد فلم يزل يكبر حتى انتهى إلى الجبانة

“Saya melihat Ali radhiyallaahu ‘anhu keluar pada hari ‘ied, ia terus bertakbir sampai ketempat sholat.”

(Diriwayatkan oleh ad-Daaruqutniy 2/44, dan selainnya)

Lebih utamanya dilakukan sendiri-sendiri, sebagaimana yang diceritakan Anas bin Maalik saat ditanya tentang amalan mereka ketika ‘Idul adh-ha :

كان يهلل المهلل منا فلا ينكر عليه ويكبر المكبر فلا ينكر عليه

“Di antara kami ada yang bertahlil dan Rasulullah tidak mengingkari, sebagian yang lain ada yang betakbir dan beliau juga tidak mengingkari.”

(Diriwayatkan Malik 1/337, al-Bukhaariy no. 970, 1659, Muslim 1285, Ibnu Majah 3008, Al Baihaqi 3/313, 5/112, Darimi 2/56, Ahmad 3/240, Ibnu Hibban 3847, an-Nasaa`i 5/250; sumber kutipan)

Atsar diatas jelas menandakan bahwa masing-masing mereka berdzikir/bertakbir dengan dzikir/takbir mereka sendiri. Maka inilah yang lebih utama.

Adapun jika dilakukan berjama’ah, maka tidak mengapa, in syaa Allaah. Berkata imam asy-Syaafi’iy dalam al-Umm:

وأحب إظهار التكبير جماعة وفرادى في ليلة الفطر وليلة النحر مقيمين وسفراً في منازلهم ومساجدهم وأسواقهم

Dan aku menyukai untuk MENAMPAKKAN TAKBIIR (yakni dengan mengeraskannya, az)… (apakah itu) secara BERJAMA’AH ataukah sendiri-sendiri di malam ‘idul fitri dan malam ‘idul adh-ha, baik itu dilantunkan muqim, atau musafir, baik itu di kediaman-kediaman mereka ataupun di masjid-masjid mereka, atau di pasar-pasar mereka.

Terlepas kita setuju dengan beliau atau tidak… Takbiir jama’i itu sudah dikenal di zaman beliau, bahkan dalam kalimat beliau diatas, jelas-jelas beliau tidak mempermasalahkannya…

Kalaulah pun kita mengikuti pendapat yang menguatkan bahwa “lebih utama untuk takbir sendiri-sendiri (atau bahkan sampai menyatakan keliru jika dilakukan secara berjama’ah)” maka ini hanya berlaku pada BINGKAI DISKUSI saja… Adapun dalam BINGKAI RANAH PRAKTIS, yaitu ketika kita dapati orang lain berpendapat dan beramal berbeda (dengan pendapat dan pengamalan kita)… Maka tidak perlu diingkari…

Amalkan saja apa yang kita ketahui, dan berlapang dadalah terhadap yang berbeda…

2. Wanita pun disyari’atkan untuk bertakbir, akan tetapi dengan SUARA YANG LIRIH

Ummu Athiyah mengatakan,

“Kami, para wanita, diperintahkan oleh berangkat shalat Ied sampai sampai kami mengajak para gadis bahkan wanita yang sedang dalam kondisi haid. Mereka berada di belakang banyak orang lalu mereka pun bertakbir dengan takbir jamaah laki laki”

[HR Bukhari no 971 dan Muslim no 890; dan dalam salah satu redaksi Muslim, “Para wanita bertakbir bersama banyak orang”]

An Nawawi dalam Syarh Muslim 6/429 setelah membawakan hadits di atas mengatakan,

“Hadits ini adalah dalil bahwa bertakbir itu dianjurkan bagi semua orang ketika Iedul Fitri atau pun Iedul Adha dan ini adalah hukum yang disepakati”.

(kutip dari ustadzaris)

Ibnu Rajab al Hanbali dalam Fathul Bari 6/130 mengatakan,

“Tidak ada perselisihan pendapat diantara ulama bahwa jamaah wanita itu bertakbir bersama jamaah laki laki jika mereka shalat berjamaah dengan jamaah laki laki. Akan tetapi ketika bertakbir jamaah wanita sedikit melirihkan suaranya”.

(kutip dari ustadzaris)

Tata cara takbiran yang KELIRU

1. Kekeliruan: apabila bertakbir dengan MENGGUNAKAN MIKROFON, terlebih hingga sampai larut malam sehingga mengganggu kaum muslimin

“Perlu dipahami bahwa cara melakukan takbir hari raya tidak sama dengan cara melaksanakan adzan. Dalam syariat adzan, seseorang dianjurkan untuk melantangkan suaranya sekeras mungkin. Oleh karena itu, para juru adzan di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti Bilal, dan Abdullah bin Umi Maktum ketika hendak adzan mereka naik, mencari tempat yang tinggi. Tujuannya adalah agar adzan didengar oleh banyak orang.

Namun ketika melakukan takbir hari raya, tidak terdapat satupun riwayat bahwa Bilal naik mencari tempat yang tinggi dalam rangka melakukan takbiran. Akan tetapi, beliau melakukan takbiran di bawah dengan suara keras yang hanya disengar oleh beberapa orang di sekelilingnya saja.

Oleh karena itu, melakukan takbir hari raya tidaklah seperti melakukan adzan. Karena dua syariat ini adalah syariat yang berbeda. (Dari artikel Takbiran Hari Raya — Muslim.Or.Id)

Maka bagi yang mengikuti pendapat imam asy-syaafi’iy (yaitu mulai takbiran sejak malam ‘idul fithri) tetap dikatakan KELIRU, apabila ia bertakbir dengan mikrofon sampai larut malam (atau bahkan sampai pagi) sehingga mengganggu orang-orang yang berada di sekitar masjid (simak:https://abuzuhriy.wordpress.com/2012/08/14/larangan-mengganggu-kaum-muslimin/)

2. Kekeliruan: apabila pria yang TIDAK MENGERASKAN takbirnya dan/atau wanita yang MENGERASKAN takbirnya

Hal ini dikarenakan telah menyelisihi sunnah yang telah dicontohkan Rasuulullaah dan para shahabatnya, sebagaimana telah dipaparkan diatas.

Semoga bermanfa’at

Sumber

Takbiran Hari Raya, muslim.or.id

Takbir Pada Idul Fithri Dan Idul Adha, almanhaj.or.id

Takbir Hari Raya, ustadzaris.com

Kapan takbir hari raya idul fitri?, artikelsunnah

 


Ini dari semua ini adalah takbiran yang benar itu yang seperti dijelaskan diatas bahkan pelarang yang dilakukan pemerintah2 daerah lebih ke takbiran keliling atas dasar kemacetan dan keamaan. Toh takbiran di masjid juga bisa malah sesuai sunah. Toh didaerah yang memang masih lumayan tidak seramai jakarta, Bandung, Surabaya pun hal seperti ini masih dilakukan dibuat perlombaan dll. Kebetulan juga di desa ane masih ada juga. Namun lantas ane tidak menggaap peraturan tentang pellarangan takbir keliling itu sebagai tindah pengekangan atas perayaan.

Ane malah setuju dengan ide membuat itu menjadi event seperti di Jogja namun tidak dilakukan secara keliling misal diarea yang sangat luas dibuat setiap kecamatan show of tentang drumband takbiran dan kesenian takbiran kekompakan warganya satu persatu yang menang dapet piala atau kambing dan sapi seperti di Jogja. karena hebit nya beda yang ane lihat tentang perayaan takbiran di Jakarta yang seperti konvoi dengan perayaan takbiran keliling di Jogja yang memang takbiran bener2 jalan muter desa jalan kaki dan dilombakan kekompakan suara, atribut dll nya.

Kalau cuma teriak teriak naik motor barengan, naik truk, naik bus itu nilai positif nya apa ane juga sampai tidak memahami. Dulu pernah denger beberapa tahun silam sampai peserta takbiran jatuh dari truk bahkan ada yang sampai tertelindas itu perayaan yang seperti apa ane sampai tidak bisa memahami, Apa bedanya dengan perayaan kemenangan suporter bola, konvoi kampanye dll ?

Hadeh hadeh ane sampai gak abis fikir. Apa gunannya juga masjid / mushola bener bener sepi sejak minggu terakhir puasa hingga ramai lagi saat awal puasa kembali datang. padahal memakmurkan masjid membuat masjid ramai itu termasuk sunnah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s