Mahalnya Kematian


Biaya Kematian

Ane mau bercerita sejenak mengenai mahal nya biaya kematian. Sebernya cerita ini mau ane post kemarin kemarin tapi kelupaan karena sibuk ngurusin SEO jadi sempet tertunda. Berawal dari cerita 2 bulanan yang lalu ketika eyang ane di panggil oleh Sang Pencipta. dari situ ane siibuk ngurusin tetekbengek urusan kematian. dari sinilah ane belajar bagaimana mau mati pun kita ini akan dibuat ribet dan harus mengeluarkan banyak biaya. Misal untuk ongkos peti dan pernak-pernik nya seperti ambulan yang membawa ke makan -+ habis sekitar 1.500.00 ( Dalam kasus ini eyang ane seorang katolik, jika muslim mungkin sedikit agak ngirit karena yang jelas tidak butuh peti.  Juga bagi yang mungkin di makamnya deket rumah bisa menggurangi biasa sekitar 500.ooo buat ongkos ambulan atau mobil jenasah ) . Ongkos Tenda + kursi -+ menghabiskan biaya sekitar 500.ooo ( Dalam kasus ane alhamdulillah ane hidup di desa yang sudah memiliki kas atau investasi berupa tenda dan kursi jadi tinggal pinjam ke RT/RW ) .

Terus tanah kuburan + Ongkos menggali kubur nya. Dalam kasus ini Eyang ane memang sudah membeli sepasang tanah yang nantinya buat peristirahan terahir nya dulu sebelum gempa jogja beli 3.000.000 terus tiap tahun harus membayar ongkos perawatan kapling tanah 50.000 / setahun selama belum di pakai. terus ongkos gali kuburan biasa nya 250.000/ tukang gali. kalau tukang gali nya ada 4 ya tinggal di kalikan saja. Jadi alhamdulillah kalian yang di desanya ada tanah wakaf yang biasa nya free untuk mengguburkan jenasah disana dan free buat menggali nya karena memang sudah ada orang yang bersedia menggali jadi lumayan menggirit banyak biaya.

Namun dalam kasus ane kemarin ada kejadian yang menurut ane akan menyusahkan kedepannya dan ini bisa buat pelajaran bagi kita yang sudah membeli tanah kuburan. Dalam kasus ane kemarin tanah kunuran 2 kapling yang sudah eyang saya beli ternyata yang satu sudah di pakai oleh jenasah lain. Ya dalam benak ane terus besok eyang kakung ane dikasihkan mana, sementara tempat pemakaman hanya menyisahkan tempat kosong di pinggir2 dan wasiat eyang ane kelak pengen masih berpasangan dengan Eyang kakung ane. Kalau buat keluarga sih tidak memepermasalahkan akan tetapi wasiat eyang ane yang sedikit menjadi ganjalan. Pelajaran yang bisa kita petik adalah jika kita sudah membeli tanah makan, sendaklah seselo mungkin kita cek keberadaan nya karena kita tidak tau kapan akan menggunakannya juga biasanya ketika orang situasi genting pengen di kubur orang akan asal nunjuk lahan makan yang kosong dan akan langsung di kuburkan disana gak petuli itu tanah sudah di beli atau enggak. jadi peran komunikasi dengan juru kunci sangat penting disini.

pelajaran yang kedua dari tanah makan adalah saat prosesi menggali perhatikan berapa orang yang menggali kubur itu karena bisa jadi kalian bisa kena tutuk kalau intilah orang jawa , tau tau kena berapa juta karena katanya yang menggali orang banyak seperti kasus ane kemarin. Ya kalau kamu orang kaya sih gak masalah tapi kalau orang susah? Udah susah masih kena palak gituan, dan yang bikin emosi masih banyak orang yang ngelakuin kayak gitu di situasi seperti itu, ya mungkin karena sandang pangan.

Yang terahir adalah soal biaya snack makanan. Bukanyya ane util atau apa ampek snack kematian aja di itung itung. ane cuma ngasih tau aja bahwa biaya kematian itu mahal buat ane sendiri yang notabenya orang biasa dari keluarga sederhana dan mungkin bisa buat bayangan buat kalian untuk siap siap. Siap siap dalam artian harus siap tabungan kematian jangan sampai kematian kalian itu malah membuat susah keluarga yang kalian tinggalkan karena harus utang buat melancarkan semua propesi. Belum nanti kalau orang jawa 7 harian, 40 harian, 100 harian dan 1000 harian yang semua nya membutuhkan biaya.  Kalau kalian udah kaya banget sih ane tanya. Belum lagi ribetnya ngurus akte matian. Bayangkan jika saya hidup dijakarta yang kata nya tanah makam aja 1×2 meter aja sampai 5 jutaan , itu baru habis buat tanah belum yang lain atau ditoraja yang ritual adat kematian membeli kerbau saja hingga 100juta an lebih atau di  San Diego Hill yang ratusan juta hinggal milyaran  :mrgreen:

Ane lebih menekankan disini bahwa ini pelajaran atau sekedar masukan buat kita yang masih hidup buat nyiapin mikirin dana buat mati biar gak nyusahin yang kita tinggal kelak juga penting nya nilai sosial masyarakat. Dimana ane rasa daerah2 yang memiliki nilai masyarakat sosialitas yang tinggi akan lebih mudah karena semua biasanya akan di kerjakan secara gotong royong. Jika anda orang kaya sekarang sudah banyak muncul starup yang memberikan jasa panitia acara acara adat atau prosesi prosesi keagamaan atau apalah yang kita tinggal bayar tapi gak perlu ribet ngurusin lain lain nya, paling banter ngasih nama silsilah keluarga atau orang yang ingin di buat acara seperti jasa aqiqah yang kita tinggal tentukan paket kambing yang berapaan tinggal kasih nama anak kita ke pihat penyelenggara dalam beberapa jam prosesi aqiqah sudah jadi dan tonseng atau gulai udah diantar ke kita gak usah mikirin nyembelih gimana dan lain lain, bener bener startup bisnis dan interpener bener dah:mrgreen:

Masih banyak hal yang bisa dibahas tentang kematian yang sangat menarik.  Seperti risekel kembali bunga bunga makam, jasa payung, jasa membersihkan makan yang pernah juga waktu ane kecil lakukan dan masih banyak lagi. Intinya mari kita berkarya:mrgreen:

NB : Cerita cerita diatas adalah kasunyatan urib, kebenaran dalam kehidupan nyata. jadi jangan sok2an kamu ngomong pamali dan kasian dll kalau jarang menemui di kehidupan nyata. Camkan itu :mrgreen:

4 thoughts on “Mahalnya Kematian”

  1. Sama dengan kasus keluargaku. Eyangku meninggal 2 minggu yang lalu. Karena beliau beragama Kristen, keluarga besar patungan buat beli peti, mengurus pemandian jenazah, transportasi menuju pemakaman (karena dikuburkan di luar Yogya), membayar jasa yayasan sosial kematian, membeli bunga rampai untuk dipajang dan bunga tabur, serta membayar snack dan makan untuk keluarga (biar gak kelaparan lalu pingsan). Semuanya habis hampir 10 yuta… Itu pun karena eyang putri minta dikuburkan bersebelahan dengan suaminya, jadi petak kuburan beliau sudah disediakan ketika eyang kakung saya meninggal tahun 1998. (Waktu itu juga habis lebih dari 10 juta, tapi mengingat nilai mata uang skrg lebih rendah, 10 juta yang dulu mestinya bernilai lebih dari 10 juta skrg.)😐

  2. iya bero emang pada kenyataan nya gitu, kita harus siap siap finansial freedom buat kematian biar nantinya gak menyusahkan yang di tinggal kelak. 10 – 20 tahun kedepan bisa berapa kali lipat itu ya😐

  3. untungnya aku tinggal di ndeso bero. Memang tetep keluar biaya tetek bengek sih tapi paling ndak bisa lebih ditekan.
    – tanah makam gratis
    – gali kubur gratis (gotong royong)
    – transpot jenasah gratis (gotong ryg)
    – kursi2 dan perabotan bolo pecah pinjam kas RW (utk event lelayu gratis)
    – bahkan biasanya para tetangga ada yang datang sambil ngasih beras, gulo, teh dll
    Tapi bener kita harus siap2 biar nanti ndak menyusahkan yang ditinggalkan, bahkan tetanggaku sudah ada yg beli kijing utk dirinya sendiru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s