Mengapa harus Dimatikan?


Ini cuma pendapat ane aja ya, bukan nya sok nentang atau cari cari sensasi  blas radue niat kui . Cuma mau berpendapat aja mengenai hal itu. saya juga bukan orang setasion Tv nanti dikira kontra karena orang tv, tapi kalu masuk Tv sih pernah itupun cuma 3 detik alias sak klebetan . jadi gak sependapat boleh kan ya?

Ane rasah sih gerakan seperti itu positif dan ane setuju  tapi terlalu dini dan berlebihan aja dan terkesan wagu , apalagi kalau di bahas masalah untung dan rugi.  dan hasil surve / berita negatif yang dibahas  yang melihat hasil surve, yang surve nya juga liat di Tv atau media lain yang juga di Tv . Kalau pedapat ane sih itu urusan individu dan urusan positif dan negatif itu urusan masing2. Peran utama keluarga , masyarakat dll lah yang utama.  jadi gak perlu di matiin. toh kalau cuma sehari buat apa? gak jauh beda kegiatan Earth Hour yang kalau ane rasa hanya sebuah event positif aja gak lebih, Penggunaan energi ramah lingkungan dan kesadaran masyarat untuk menghemat energi fosil itu yang penting. tapi ya terserah sih kalau mau ikut2an Earth Hour   toh tampa itu tiap hari PLN nglakuin itu. bahkan daerah2 di pelosok indonesia masih year earth- year earth ( baca: biarpet-biarpet ) bahkan masih earthing (baca: peteng) sampai sekarang karena belum kena pasokan listrik yang itu juga hak mereka

Kembali ke soal matikan Tv ini tadi. Yang mungkin gak semua orang punya hiburan yang “gratis” selain tv bahkan yang lebih ngenes tu gak punya tv, yang lebih ngenes kuadrat tu gak ada listrik dan gak punya tv.

Menonton Televisi, Siapa yang Untung?

Tahukah kita bahwa setiap detik yang kita habiskan di depan televisi berarti kita telah mendatangkan keuntungan bagi mereka? Mereka mendapatkan iklan, beberapa diantaranya seharga puluhan juta rupiah hanya untuk beberapa detik penayangan di televisi, karena kita menonton acara itu. Semakin lama kita menonton televisi, maka akan semakin berlimpah iklan yang mereka dapatkan. Jadi, stasiun-stasiun televisi itu mendapatkan keuntungan berlimpah dari iklan karena kita menonton tayangan mereka.

Ya namanya juga berbisnis masuk akal kalau mereka pasang iklan di tv dan tarif nya mahal, tapi “informasi” yang didapat saat nonton tv , dalam kasus ini tentu acara2 yang potisif ya , itu gak bisa diukur dengan materi kalau ane lo ya. kalau emang gak suka iklan ya di matiin pas iklan kan bisa. jadi jangan ikut gerakan konyol ini dan ini  lah

Lalu, apa yang kita peroleh?

Kita tidak mendapatkan imbalan materi, kita hanya mendapatkan kesenangan. Namun, sering kali, imbalan itu tidak sesuai dengan yang kita harapkan, televisi terlalu banyak menayangkan kekerasan, pornografi, terorisme, dan seabrek tayangan buruk lainnya, dan kita sepertinya tidak berdaya. Kekerasan adalah Muatan Utama Televisi Tidak peduli program hiburan ataupun berita, kekerasan hampir selalu mewarnai siaran televisi. Tayangan kekerasan akan semakin menguat jika ada peristiwa khusus seperti terorisme atau tindak kriminal. Bukan hanya praktik kekerasannya yang ditonjolkan, tapi korban sering kali dieksploitasi dengan cara-cara yang vulgar. Televisi Sering Membuat Berita yang Menyesatkan Erupsi Merapi telah memberikan pelajaran sangat berharga pada kita mengenai stasiun televisi nasional. Kita bisa menyimpulkan bahwa stasiun televisi nasional hanya mempedulikan rating dan iklan, sama sekali tidak mempedulikan perasaan kita. Erupsi Merapi hanya satu kasus, masih banyak kasus-kasus yang lain dimana pemberitaan televisi justru seringkali menyesatkan, bukan mencerahkan. Bagaimana Pengaruh Tayangan Televisi? Terlalu banyak tayangan televisi yang buruk dan tidak mendidik. Lalu, adakah pengaruhnya bagi kita atau anak-anak kita? Coba kita lihat data di bawah ini:

  1. Pada akhir 2006, di berbagai daerah anak-anak menirukan adegan smack down yang ditayangkan Lativi saat itu, korbanpun berjatuhan.
  2. Menjelang usia 18 tahun, anak-anak telah menghabiskan waktu 25.000 jam untuk menonton tv, melebihi aktivitas lain kecuali tidur. Dalam rentang waktu yang panjang itu anak-anak telah dipaksa untuk melihat 350.000 siaran iklan, 15.000 berita kematian akibat kekerasan, dan 7.000 situasi orang dewasa (Limburg, 1994).
  3. 85% acara televisi tidak aman untuk anak, karena banyak mengandung adegan kekerasan, seks dan mistis yang berlebihan dan terbuka.
  4. Kekuatan audio visual televisi mampu menanamkan pesan yang kuat ke dalam jiwa manusia. Televisi mampu membuat orang mengingat 50 % dari apa yang mereka lihat dan dengar di layar televisi walaupun hanya sekali ditayangkan.

ya mungkin kalau yang kita tonton cuma Stasion Tv Swasta sih ya bisa jadi. itu pun emang stasiun tv yang emang menjual acara seperti yang diatas itu yang di tonton. swasta yang setia kasih berita juga ada. tapi  coba kalau yang di tonton itu TVRI , pasti lain ceritanya dan saya yakin masih lumayan banyak orang yang nonton TVRI di daerah daerah bahkan RRI  ya karena yang bisa nyaout gelombang frekuensinya cuma itu atau mungkin TV yang dia punya cuma bisa buat nonton itu, itupun harus di bela2in buat beli parabola [ yang mampu beli tentunya ] kalau gak punya ya mungkin cuma pake dekoder terus audionya pake radio

Itu pasti mas nya yang bikin gerakan itu ane yakin jarang nonton TVRI itu. jadi ya bisa membuat analisa gitu, atau emang yang di surve dan di expose emang yang di kota aja. yang di pelosok mungkin gak di ekpos, mungkin karena jalan diplosok masih susah belum aspal dan mungkin gak ada internet, bahkan listrik gak ada  jadi gak di surfe.  lawong angka kemiskinan aja masih segini dan pendapatan rata rata penduduk masih segini. ya mungkin butuh hiburan yang gratis dan pikiran mereka gak nyampe ke untung rugi. udah bisa nonton tv aja mungkin udah seneng.

Peran orang tua dan keluarga yang nonton juga di perlukan disini, lawong anak kecil aja udah di tinggal kerja bapak dan ibu nya, le ngurusi we rewange yo ane yakin prilaku menyimpang mereka kalu abis nonton terus di praktekkan yo memper.  jam belajar masyakat jam 19-20 malah wongtuane do nonton tv yo piye meneh:mrgreen:

yang nonton berita gak jelas dan masih abu-abu ya harus nya miker, toh kita punya otak buat mikir sekarang juga masyarakat yang nonton juga udah pinter gak bodo2 amat jadi di kembalikan lagi ke orang nya. toh kalau bisa sama sama belajar yang nonton juga tau waktu dan tau porsinya dan yang bikin acara tau cara penyajian dan bikin acara yang bener dan bermutu pemerintah juga nyediain listrik dan memberi harga sembako jadi murah mungkin semua akan berjalan serasi dan seimbang [ omongaku duwor tenan:mrgreen: ]

Kanal itu Milik

Kita Untuk bisa siaran, stasiun televisi menggunakan frekuensi atau kanal yang jumlahnya terbatas. Kanal adalah sumber daya milik publik atau rakyat. Jadi, kanal itu milik kita. Karenanya, sebagai pengguna frekuensi, stasiun televisi seharusnya menayangkan acara-acara untuk kepentingan publik, bukan untuk keuntungan mereka sendiri.

Stasiun Televisi Melanggar Undang-Undang Kita barangkali tidak tahu bahwa praktik industri televisi sekarang ini melanggar Undang-Undang UU No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran.

  1. Praktik bersiaran secara nasional harusnya diganti dengan praktik siaran berjaringan. Praktik siaran tersebut melanggar Pasal 20 UU No. 32/2002: “Lembaga penyiaran radio dan jasa penyiaran televisi masing-masing hanya dapat menyelenggarakan 1 (satu) siaran dengan 1 (satu) saluran siaran pada 1 (satu) cakupan wilayah siaran” serta Pasal 31 ayat (2): “Lembaga Penyiaran Swasta dapat menyelenggarakan siaran melalui sistem stasiun jaringan dengan jangkauan terbatas”.
  2. Praktik monopoli, dimana satu pemilik menguasai banyak stasiun televisi. Hal melanggar Pasal 18 UU No. 32/2002: “Pemusatan kepemilikan dan penguasaan Lembaga Penyiaran Swasta oleh satu orang atau satu badan hukum, baik di satu wilayah siaran maupun di beberapa wilayah siaran, dibatasi”. Praktik tersebut juga melanggar Pasal 32 ayat 1 huruf a, Peraturan Pemerintah No 50 tahun 2005 tentang Lembaga Penyiaran Swasta yang menyatakan: “Pemusatan kepemilikan dan penguasaan Lembaga Penyiaran Swasta jasa penyiaran televisi oleh 1 (satu) orang atau 1 (satu) badan hukum, baik di satu wilayah siaran maupun di beberapa wilayah siaran, di seluruh wilayah Indonesia dibatasi sebagai berikut: a. 1 (satu) badan hukum paling banyak memiliki 2 (dua) izin penyelenggaraan penyiaran jasa penyiaran televisi, yang berlokasi di 2 (dua) provinsi yang berbeda”

kalau bagian ini ane gak dong, bagian hukum2 ngeneki aku mumet biar pengacara pribadi ane @adisunata   aja nanti yang menjalaskan secara online ama ane babagan ini

SAATNYA BERGERAK

Para pemilik televisi memang mempunyai modal besar. Mereka mampu membuat opini publik. Melalui jaringan media yang miliki, mereka bisa memenangkan kandidat presiden yang mereka sukai. Namun, kita mempunyai kekuatan jumlah. Mengapa kita tidak menggunakan kekuatan itu? Jika kita mau sehari saja untuk tidak menyalakan televisi, maka barangkali kita bisa memperbaiki situasi buruk ini. Sehari tanpa tv, berarti sehari tanpa pemasukan iklan. Jadi, mengapa Anda tidak bergabung dengan kami dengan mematikan televisi selama satu hari saja, besok Minggu, 24 Juli 2011. Jika kita peduli nasib bangsa ini, peduli pada perkembangan anak-anak kita, maka MATIKAN TV pada hari itu, dan Anda telah bergabung dengan Gerakan Nasional Hari Tanpa TV.

kalau bagian ini ane agak setuju , yang mau matiin monggo matiin yang mau dukung monggo, tapi kalu cuma sehari dan masih ada 364 hari buat siaran. kalau ane sih malah setuju gerakan sehari matiin koruptor dengan di lempar tv, atau gerakan sehari memantau anggota DPR,MPR,Kecamatan,Kelurahan,Kantor samsat, kantor Kejaksaan, dan instansi PEMERINTAHAN yang lain dengan CCtv

Atau mungkin gerakan mengenalkan kembali warga indonesia akan TVRI dan RRI, mengajak mereka menonton lagi acara acara mereka atau memberi mereka sumbangan dana biar kembang kalau ngandelin pemerintah buat sokong dana mereka itu suatu hal yang gak masuk akal. gak masuk akal bukan karena gak mampu bayarin tapi mungkin gak dapet bagian lawong di korupsi. buat biaya pendidikan aja gak mampu cen pabu !

atau mau bantu bikin menarik situs nya TVRI , biar update terus gak kalah ama situs televisi swasta , atau bantu ngeramein forum TVRI, yang bisa koding ya bantu situs nya ini yang cuma pake Joomla. Yang biasa online gak punya tv ya pake tvtuner buat nonton TVRI atau via HP yang ada tv nya [ koyo hp ku , makane nek aku melu gerakan iki hp ku yo melu mati:mrgreen: ], kalau gak bisa ya nonton TVRI streaming disini di menu streaming

mudah kan bero?

asline aku nulis dowo banget ngeneki malah mumet, gek topik e yo rodok duwur , nek mbahas pit2an ngunu malah seneng aku:mrgreen: . kurang lebih nya ane mohon maaf dan tulisan ini di tulis dengan keadaan waras dan sesingkat singkat nya. cukup sekian dan aura kasih

tertanda @rasarab 

i’m a javanis native,Muhajir sunda descent , ♥SNSD ,Netter and social media freak. boyfriend of ♥ @nabilasyakieb , likes cycling and cooking

Published by:

rasarab

Iqbal Khan urban cyclists. Social Media Specialist, Full time Blogger, SEO Specialist, Web Developer. Founder http://goowes.co & Co Founder http://ngonoo.com EMAIL : ras.arab@gmail.com

Categories cerita6 Comments

6 thoughts on “Mengapa harus Dimatikan?”

  1. postingan asal ning nyenengkeh…

    kalau ane sih malah setuju gerakan sehari matiin koruptor dengan di lempar tv,
    Like this so much….
    klumpukne nang alun2 wae kang

  2. @Goda-Gado :
    woh tego we wan:mrgreen:

    @Topan:
    palinggak udah gak nonton tv bero , ikut nyuksesij gerakan itu😆:mrgreen:

    @suryaden:
    yoi bero, yo kui pemikirane wong2 sek instan menanggapi kasus [ aku ki aline mumet yoan bahas ini:mrgreen: ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s